Contoh Kerangka Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif

Judul skripsi sudah disetujui, rumusan masalah pun sudah selesai disusun. Namun, saat dosen pembimbing bertanya, “Kerangka penelitiannya mana?”, kamu justru bingung harus menunjukkan apa. Pernah mengalami situasi seperti ini? Tenang, kamu tidak sendiri. Istilah kerangka …

Contoh Kerangka Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif

Judul skripsi sudah disetujui, rumusan masalah pun sudah selesai disusun. Namun, saat dosen pembimbing bertanya, “Kerangka penelitiannya mana?”, kamu justru bingung harus menunjukkan apa. Pernah mengalami situasi seperti ini? Tenang, kamu tidak sendiri. Istilah kerangka penelitian memang masih sering membingungkan mahasiswa.

Apalagi, ada beberapa istilah yang terdengar mirip, seperti kerangka konsep, kerangka berpikir, dan kerangka teori. Meski sekilas terlihat sama, ketiganya sebenarnya memiliki pengertian dan fungsi yang berbeda dalam penelitian.

Nah, supaya tidak semakin bingung, artikel ini akan membahas kerangka penelitian secara bertahap, mulai dari pengertian, unsur-unsur yang perlu disusun, cara membuatnya, hingga dua contoh kerangka penelitian skripsi yang bisa kamu jadikan referensi.

Apa Itu Kerangka Penelitian?

Kerangka penelitian adalah gambaran alur pikir yang menunjukkan hal apa saja yang akan kamu teliti dan bagaimana hubungan antarbagiannya. Biasanya berbentuk bagan berisi kotak dan panah, lalu dijelaskan lewat narasi singkat. Fungsinya mirip peta: kamu jadi tahu mau ke mana dan lewat jalur mana.

Notoatmodjo (2018), seperti dikutip dalam repositori skripsi Poltekkes Kemenkes Denpasar, menyebut kerangka konsep sebagai gambaran hubungan antara konsep atau variabel yang diukur dan diamati dalam penelitian.

Manfaat Kerangka Penelitian

Manfaat kerangka penelitian adalah penelitianmu jadi tidak melebar ke mana-mana. Saat sudah ada bagan yang jelas, kamu bisa mengecek apakah data yang dikumpulkan memang menjawab rumusan masalah atau malah menyimpang.

Kerangka juga membantu kamu menghubungkan teori dengan variabel, lalu menentukan desain dan metode yang cocok. Pratiwi (2022) mencatat bahwa kerangka yang baik ikut menentukan desain penelitian, metode, bahkan cara pengumpulan data. Bonusnya, dosen penguji lebih mudah menangkap alur pikirmu.

Perbedaan Kerangka Teori, Kerangka Konsep, dan Kerangka Berpikir

  • Kerangka Teori: Landasan penelitian yang berisi teori-teori dari para ahli untuk menjelaskan dan mendukung permasalahan yang diteliti.
  • Kerangka Konsep: Gambaran hubungan antara konsep atau variabel yang menjadi fokus penelitian, biasanya disajikan dalam bentuk bagan.
  • Kerangka Berpikir: Alur pemikiran peneliti yang menjelaskan hubungan antara masalah, teori, dan konsep hingga menghasilkan dasar atau arah penelitian.

Apa Saja Isi Kerangka Penelitian?

Isi kerangka penelitian berbeda-beda tergantung pendekatan yang kamu pakai. Meski begitu, ada beberapa unsur yang hampir selalu muncul, terutama pada skripsi kuantitatif. Kita bedah satu per satu, ya.

1. Variabel

Pada penelitian kuantitatif, kamu menuliskan variabel bebas (yang memengaruhi) dan variabel terikat (yang dipengaruhi). Pada penelitian kualitatif, yang ditulis biasanya fokus penelitian dan konsep-konsep kuncinya.

2. Hubungan Antarvariabel

Hubungan digambarkan dengan garis atau panah. Arah panah menunjukkan mana yang memengaruhi dan mana yang dipengaruhi. Pastikan hubungan ini punya dasar dari teori atau penelitian terdahulu, bukan sekadar dugaan.

3. Keterangan Bagan

Pada contoh skripsi di repositori Poltekkes Kemenkes Denpasar, bagan kerangka konsep diberi keterangan sederhana: mana variabel yang diteliti, mana yang tidak diteliti, dan mana garis hubungannya. Kebiasaan kecil ini membantu pembaca langsung paham batas penelitianmu.

4. Landasan Teori dan Penelitian Terdahulu

Kerangka tidak muncul dari ruang kosong. Ia disusun dari kajian pustaka, yaitu teori dan temuan penelitian sebelumnya yang relevan. Karena itu, di bawah bagan biasanya ada narasi yang menjelaskan alasan mengapa variabel A dihubungkan dengan variabel B.

5. Hipotesis (Khusus Kuantitatif)

Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara atas rumusan masalah. Menurut pedoman yang diringkas Darmalaksana (2021), hipotesis tidak lazim dipakai pada penelitian kualitatif. Sebagai gantinya, peneliti dapat memakai problem statement.

Cara Membuat Kerangka Penelitian

Menyusun kerangka penelitian sebenarnya tidak harus rumit. Kamu hanya perlu memahami masalah yang ingin diteliti, menentukan teori yang relevan, kemudian menyusunnya secara sistematis. Berikut langkah-langkah yang bisa kamu ikuti.

1. Pastikan Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian Sudah Jelas

Langkah pertama adalah membaca kembali judul, rumusan masalah, dan tujuan penelitian. Ketiganya menjadi dasar dalam menyusun kerangka penelitian. Jika rumusan masalah belum jelas, kerangka yang dibuat juga berisiko tidak terarah.

Coba identifikasi kata kunci dalam rumusan masalah, kemudian tandai variabel atau fokus utama yang ingin kamu teliti. Dengan begitu, kamu akan lebih mudah menentukan bagian apa saja yang perlu dimasukkan ke dalam kerangka.

2. Kumpulkan Teori dan Penelitian Terdahulu

Setelah menentukan fokus penelitian, mulailah mencari teori yang relevan dari buku akademik, jurnal ilmiah, dan penelitian terdahulu. Pilih referensi yang benar-benar berkaitan dengan topik agar kerangka yang disusun memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Pratiwi (2022) menjelaskan bahwa kerangka konseptual dapat dibangun berdasarkan pengalaman, literatur, dan teori. Artinya, pengalaman atau pengamatan pribadi bisa menjadi titik awal dalam menemukan gagasan penelitian. Namun, gagasan tersebut tetap perlu diperkuat dengan literatur dan sumber ilmiah yang kredibel.

3. Tentukan Variabel

Berikutnya, identifikasi variabel atau konsep utama yang akan digunakan. Dalam penelitian kuantitatif, kamu perlu menentukan variabel bebas (independen), variabel terikat (dependen), serta variabel lain jika memang dilibatkan dalam penelitian.

Sementara itu, dalam penelitian kualitatif, tentukan fokus penelitian dan konsep-konsep penting yang ingin digali. Penentuan bagian ini akan membantu kamu memahami aspek apa saja yang perlu dianalisis dan bagaimana hubungan antarkonsep tersebut.

4. Tentukan Hubungan Antarvariabel

Setelah variabel atau konsep ditentukan, langkah berikutnya adalah menjelaskan hubungan di antara semuanya. Misalnya, apakah variabel X berpengaruh terhadap variabel Y? Apakah ada faktor lain yang memperkuat atau memperlemah hubungan tersebut?

Pastikan hubungan yang kamu buat memiliki dasar teori atau didukung penelitian terdahulu, bukan sekadar asumsi pribadi. Khusus penelitian kuantitatif, hubungan antarvariabel ini nantinya dapat menjadi dasar untuk merumuskan hipotesis penelitian.

5. Buat Bagan Kerangka Penelitian

Jika hubungan antarvariabel atau konsep sudah jelas, tuangkan ke dalam bentuk bagan. Kamu bisa menggunakan kotak, garis, dan tanda panah untuk menunjukkan alur pemikiran serta hubungan antarbagian dalam penelitian.

Tidak perlu membuat desain yang terlalu rumit atau penuh dekorasi. Utamakan keterbacaan dan kejelasan alur. Pastikan setiap variabel atau konsep diberi nama yang konsisten dengan pembahasan dalam proposal atau skripsi.

6. Lengkapi dengan Penjelasan Naratif

Bagan saja belum cukup untuk menjelaskan keseluruhan kerangka penelitian. Kamu juga perlu menambahkan uraian tertulis yang menjelaskan alasan di balik hubungan antarvariabel atau konsep yang sudah dibuat.

Dalam bagian ini, jelaskan bagaimana teori dan hasil penelitian terdahulu mendukung alur pemikiranmu. Sertakan kutipan dari sumber ilmiah yang relevan agar setiap hubungan yang dibangun memiliki landasan akademis dan dapat dipertanggungjawabkan.

7. Periksa Konsistensi dengan Dosen Pembimbing

Terakhir, baca kembali kerangka penelitian yang sudah disusun. Periksa apakah isinya sudah sesuai dengan judul, rumusan masalah, tujuan, dan metode penelitian. Pastikan variabel dalam bagan juga konsisten dengan variabel yang digunakan dalam instrumen penelitian.

Jika semuanya sudah sesuai, konsultasikan kerangka tersebut kepada dosen pembimbing. Masukan dari dosen penting untuk memastikan alur pemikiran penelitian sudah logis, relevan, dan sesuai dengan kaidah penelitian yang digunakan.

Contoh Kerangka Penelitian Skripsi

Berikut dua contoh kerangka penelitian skripsi, satu kuantitatif dan satu kualitatif. Keduanya adalah ilustrasi buatan untuk membantumu memahami pola. Jangan disalin mentah-mentah, ya. Sesuaikan dengan topik, teori, dan pedoman kampusmu.

1. Contoh Kerangka Penelitian Kualitatif

Judul penelitian: Pengalaman Mahasiswa dalam Mengikuti Pembelajaran Daring.

Alur kerangka penelitian:

  1. Fenomena pembelajaran daring di kalangan mahasiswa.
  2. Identifikasi permasalahan selama proses pembelajaran daring.
  3. Penentuan fokus penelitian, seperti pengalaman, kendala, dan adaptasi mahasiswa.
  4. Pengumpulan data melalui wawancara dan observasi.
  5. Analisis data berdasarkan hasil wawancara dan observasi.
  6. Penarikan kesimpulan mengenai pengalaman mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran daring.

Gambaran alurnya:

Fenomena Pembelajaran Daring → Identifikasi Masalah → Fokus Penelitian → Pengumpulan Data → Analisis Data → Kesimpulan.

2. Contoh Kerangka Penelitian Kuantitatif

Judul penelitian: Pengaruh Motivasi Belajar terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa.

Alur kerangka penelitian:

  1. Identifikasi masalah terkait motivasi belajar dan prestasi akademik mahasiswa.
  2. Penentuan variabel penelitian, yaitu motivasi belajar (X) dan prestasi akademik (Y).
  3. Pengumpulan teori dan penelitian terdahulu sebagai dasar hubungan antarvariabel.
  4. Penyusunan hipotesis bahwa motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi akademik.
  5. Pengumpulan data melalui kuesioner dan dokumentasi nilai akademik.
  6. Analisis data menggunakan metode statistik.
  7. Pengujian hipotesis dan penarikan kesimpulan.

Gambaran alurnya:

Motivasi Belajar (X) → Prestasi Akademik (Y) → Pengumpulan Data → Analisis Statistik → Pengujian Hipotesis → Kesimpulan.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menyusun Kerangka Penelitian

Kesalahan pertama adalah bagan yang tidak sinkron dengan rumusan masalah. Misalnya, rumusan masalah bicara dua variabel, tapi bagannya memuat empat. Dosen penguji biasanya langsung menangkap ketidaksesuaian ini.

Kesalahan kedua, hubungan antarvariabel digambar tanpa dasar teori. Panah tidak boleh muncul hanya karena “rasanya berhubungan”. Terakhir, ada mahasiswa yang menyalin kerangka dari skripsi lain tanpa menyesuaikan variabel dan konteksnya. Selain berisiko plagiarisme, cara ini membuatmu sulit menjelaskan kerangka itu saat sidang.

Itulah pembahasan singkat dari Dosen Mahasiswa tentang contoh kerangka penelitian kualitatif dan kuantitatif. Semoga artikel ini membantu kerangka penelitianmu cepat rampung, ya!

Referensi:

Darmalaksana, Wahyudin. “Metodologi Penelitian.” Pre-Print Kelas Menulis UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2021, digilib.uinsgd.ac.id/42191/1/METODOLOGI%20PENELITIAN.pdf. Diakses 4 Nov. 2026.

Politeknik Kesehatan Kemenkes Denpasar. “Bab III Kerangka Konsep.” Repositori Poltekkes Kemenkes Denpasar, repository.poltekkes-denpasar.ac.id/23796/4/BAB%20III%20KERANGKA%20KONSEP.pdf. Diakses 4 Nov. 2026.

Pratiwi, Magvira Ardhia. “Perbedaan Theoretical Framework dan Conceptual Framework pada Penelitian Ilmiah.” Idealog: Ide dan Dialog Indonesia, vol. 7, no. 2, 2022, hlm. 199–210, doi.org/10.25124/idealog.v7i2.5014. Diakses 4 Nov. 2026.

Pujiati. “Kerangka Penelitian dan Tata Cara Membuatnya.” Penerbit Deepublish, 19 Mar. 2024, penerbitdeepublish.com/karya-ilmiah-penelitian/kerangka-penelitian/. Diakses 4 Nov. 2026.

Seorang penulis konten edukasi dengan fokus pada topik akademik, penelitian, dan teknologi pendidikan. Memiliki pengalaman lebih dari 7 tahun dalam penulisan artikel seputar, universitas, skripsi, metodologi penelitian, dan pengembangan akademik mahasiswa.