Studi Literatur: Pengertian, Jenis, Tujuan, dan Metode

Pernah nggak, kamu disuruh dosen untuk “lakukan studi literatur dulu” sebelum mulai penelitian, tapi sebenarnya masih bingung apa maksudnya dan harus mulai dari mana? Tenang, kamu nggak sendirian. Banyak mahasiswa yang baru menyusun skripsi, tesis, …

studi literatur

Pernah nggak, kamu disuruh dosen untuk “lakukan studi literatur dulu” sebelum mulai penelitian, tapi sebenarnya masih bingung apa maksudnya dan harus mulai dari mana? Tenang, kamu nggak sendirian.

Banyak mahasiswa yang baru menyusun skripsi, tesis, atau tugas akhir merasa istilah ini terdengar berat, padahal sebenarnya konsepnya cukup sederhana.

Studi literatur adalah salah satu fondasi penting dalam dunia akademik. Hampir semua karya ilmiah, mulai dari makalah, skripsi, sampai jurnal penelitian, membutuhkan tahap ini sebagai bagian dari proses penyusunannya. Tanpa perencanaan yang matang, tulisanmu bisa terasa dangkal dan kurang punya landasan teori yang kuat.

Di artikel ini, kamu akan diajak memahami studi literatur dari berbagai sisi: mulai dari pengertian menurut para ahli, ciri-ciri, tujuan, jenis, sumber yang bisa digunakan, hingga langkah-langkah praktis melakukannya.

Apa Itu Studi Literatur?

Secara umum, studi literatur adalah kegiatan mencari, membaca, mencatat, dan mengolah informasi dari berbagai sumber tertulis maupun non-cetak yang berkaitan dengan topik penelitian atau tulisan yang sedang kamu kerjakan.

Istilah ini juga sering disebut dengan nama lain seperti studi literatur, kajian pustaka, atau tinjauan pustaka.

Dari beberapa definisi tersebut, bisa disimpulkan bahwa studi literatur adalah proses berdialog dengan sumber-sumber tertulis untuk membangun pemahaman dan landasan teori, bukan dengan terjun langsung ke lapangan.

Ciri-ciri Studi Literatur

Agar lebih mudah membedakan studi literatur dengan jenis penelitian lain, ada beberapa ciri utama yang perlu kamu ketahui. Ciri-ciri ini juga memengaruhi cara kerja dan sifat penelitian yang dilakukan.

  • Berhadapan langsung dengan teks atau data, bukan dengan pengalaman langsung di lapangan seperti observasi atau wawancara terhadap saksi mata suatu peristiwa.
  • Data bersifat siap pakai (ready-made), artinya kamu tidak perlu pergi ke lokasi tertentu karena data sudah tersedia di perpustakaan atau platform digital.
  • Sumber datanya sekunder, yaitu data yang diperoleh dari tangan kedua, bukan data orisinal hasil pengamatan langsung di lapangan.
  • Tidak dibatasi ruang dan waktu, sehingga kamu bisa mengakses sumber dari berbagai tempat dan periode tanpa harus hadir secara fisik.

Tujuan Studi Literatur

Lalu, sebenarnya buat apa sih studi literatur itu dilakukan? Berikut beberapa tujuan utamanya yang perlu kamu pahami.

1. Membangun Landasan Teori

Tujuan paling mendasar dari studi literatur adalah membangun kerangka teori yang kuat untuk penelitianmu. Dengan membaca berbagai sumber, kamu bisa memahami konsep, teori, dan pendekatan yang relevan dengan topik yang sedang dibahas.

2. Memahami Penelitian Terdahulu

Studi literatur membantu kamu mengetahui apa saja yang sudah diteliti orang lain sebelumnya terkait topik yang sama. Dengan begitu, kamu bisa menentukan posisi penelitianmu, apakah akan melengkapi, membandingkan, atau mengembangkan dari penelitian terdahulu.

3. Menghindari Duplikasi dan Plagiarisme

Dengan mengetahui penelitian-penelitian sebelumnya, kamu jadi lebih mudah menghindari pengulangan topik yang sudah pernah dibahas secara identik. Studi literatur juga membantu memastikan setiap kutipan dicantumkan dengan benar, sehingga terhindar dari tindakan plagiarisme yang tidak disengaja.

4. Memperkuat Argumen dan Kredibilitas Tulisan

Tulisan yang didukung referensi kredibel akan terlihat lebih meyakinkan dibanding tulisan tanpa rujukan sama sekali. Studi literatur memberikan “amunisi” berupa data, teori, dan fakta yang memperkuat argumenmu.

Jenis-Jenis Studi Literatur

Berikut ini adalah beberapa jenis studi literatur yang sering digunakan oleh para peneliti atau mahasiswa:

1. Narrative Review

Narrative review merupakan jenis studi literatur yang dilakukan dengan mengumpulkan dan merangkum berbagai penelitian terkait suatu topik tanpa prosedur pencarian yang terlalu ketat. Jenis ini bertujuan memberikan gambaran umum mengenai perkembangan suatu bidang penelitian.

2. Systematic Literature Review (SLR)

Systematic Literature Review (SLR) adalah studi literatur yang menggunakan metode pencarian, seleksi, dan analisis sumber secara sistematis dan terstruktur. SLR bertujuan mengurangi bias serta menghasilkan sintesis bukti yang lebih objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

3. Scoping Review

Scoping review digunakan untuk memetakan cakupan penelitian yang telah ada pada suatu topik. Jenis ini membantu peneliti mengidentifikasi tren, konsep utama, kesenjangan penelitian (research gap), serta peluang penelitian lanjutan.

4. Meta-analysis

Meta-analysis merupakan metode studi literatur yang menggabungkan hasil statistik dari beberapa penelitian sejenis untuk memperoleh kesimpulan yang lebih kuat. Jenis ini umumnya digunakan dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan ilmu sosial yang memiliki banyak penelitian kuantitatif.

Baca Juga: 10 Kelebihan dan Kekurangan Penelitian Kuantitatif

Sumber Studi Literatur

Setelah memahami jenisnya, kamu juga perlu tahu sumber-sumber apa saja yang bisa dimanfaatkan dalam studi literatur. Beberapa sumber yang umum digunakan antara lain:

  • Buku akademik, baik buku teks maupun buku referensi yang membahas teori dasar.
  • Jurnal ilmiah, terutama jurnal yang sudah terindeks dan memiliki reputasi baik.
  • Skripsi, tesis, dan disertasi dari kampus-kampus yang kredibel.
  • Laporan hasil penelitian dari lembaga atau instansi terkait.
  • Artikel dan abstrak jurnal yang relevan dengan topik penelitian.
  • Media non-cetak, seperti rekaman audio, video, atau dokumen elektronik yang mendukung topik.

Untuk mencari sumber-sumber tersebut, kamu bisa memanfaatkan platform akademik terpercaya seperti Google Scholar, SINTA, ResearchGate, atau Scopus. Khusus untuk topik yang berkaitan dengan jurusan, kampus, atau akreditasi, kamu juga bisa mengecek data resminya melalui PDDIKTI (Pangkalan Data Pendidikan Tinggi).

Metode dan Langkah-langkah Melakukan Studi Literatur

Supaya proses studi literatur berjalan efisien dan hasilnya maksimal, kamu bisa mengikuti langkah-langkah berikut ini.

1. Tentukan Topik dan Kata Kunci

Langkah pertama adalah memahami fokus masalah penelitianmu secara rinci. Dari sini, kamu bisa menentukan kata kunci yang tepat agar pencarian sumber lebih terarah dan tidak melebar ke topik yang kurang relevan.

2. Identifikasi Jenis Pustaka yang Dibutuhkan

Sesuaikan jenis pustaka dengan kebutuhan penelitianmu. Misalnya, jika kamu membutuhkan teori dasar, carilah buku akademik. Jika membutuhkan data atau temuan terbaru, gunakan artikel jurnal. Sementara untuk konteks historis, kamu bisa menelusuri catatan sejarah.

3. Cari Sumber di Platform Terpercaya

Gunakan platform akademik seperti Google Scholar, SINTA, atau ResearchGate untuk mencari sumber yang kredibel. Pastikan kamu mengakses laman resmi dan menghindari sumber yang validitasnya tidak jelas, karena bisa memengaruhi keabsahan penelitianmu.

4. Baca Abstrak dan Kesimpulan Terlebih Dahulu

Sebelum membaca keseluruhan isi, coba baca bagian abstrak dan kesimpulan dulu. Dua bagian ini memberikan gambaran umum apakah sumber tersebut benar-benar relevan dengan topik yang sedang kamu bahas.

5. Catat Poin-poin Penting

Setelah memastikan sumbernya relevan, catat poin-poin utama seperti tujuan penelitian, metode yang digunakan, temuan utama, kesimpulan, dan rekomendasi. Pencatatan ini membantu memetakan informasi penting sebelum kamu mulai menulis.

6. Buat Ikhtisar dan Susun Kutipan

Langkah terakhir adalah membuat ikhtisar atau ringkasan dari poin-poin yang sudah dicatat, lalu menyajikannya dalam bentuk kutipan, parafrase, atau referensi sesuai kebutuhan tulisanmu. Jangan lupa cantumkan setiap sumber yang digunakan ke dalam daftar pustaka.

Tips Menulis Sumber Referensi dengan Benar

Setelah mengumpulkan sumber-sumber pustaka, kamu juga perlu memperhatikan cara penulisan referensinya. Beberapa gaya sitasi yang umum digunakan antara lain:

  • APA Style, ditulis secara alfabetis di daftar pustaka dan sering digunakan untuk penelitian di bidang sosial dan pendidikan.
  • MLA Style, lebih sering digunakan untuk penulisan di bidang humaniora dan bahasa Inggris, dengan format yang relatif sederhana.
  • Chicago/Turabian Style, biasa digunakan untuk penulisan di bidang sastra, seni, dan sejarah.
  • AMA Style, umum digunakan untuk penelitian di bidang kedokteran, kesehatan, dan biologi.

Memilih gaya sitasi yang tepat dan konsisten akan membuat tulisanmu terlihat lebih rapi dan memenuhi standar akademik yang berlaku.

Itulah artikel dari Dosen Mahasiswa tentang Studi Literatur. Dengan memahami pengertian, ciri-ciri, tujuan, jenis, sumber, hingga langkah-langkah melakukannya, kamu bisa menjalani proses ini dengan lebih terarah dan efisien.

Referensi:

Haryono, Eko, et al. “New Paradigm Metode Penelitian Kepustakaan (Library Research) di Perguruan Tinggi.” An-Nuur, vol. 14, no. 1, 2023, https://doi.org/10.58403/annuur.v14i1.391. Diakses 15 Juni 2026.

Fadli, Muhammad Rijal. “Memahami Desain Metode Penelitian Kualitatif.” Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum, vol. 21, no. 1, 2021, https://doi.org/10.21831/hum.v21i1.38075. Diakses 15 Juni 2026.

Waruwu, Marinu. “Pendekatan Penelitian Pendidikan: Metode Penelitian Kualitatif, Metode Penelitian Kuantitatif dan Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Method).” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 7, no. 1, 2023, https://doi.org/10.31004/jptam.v7i1.6187. Diakses 15 Juni 2026.

Apa perbedaan studi literatur dan tinjauan pustaka?

Secara konsep, keduanya sering dianggap sama dan dipakai secara bergantian. studi literatur lebih menekankan pada proses mencari dan mengumpulkan sumber, sedangkan tinjauan pustaka lebih fokus pada hasil ulasan atau ringkasan dari sumber-sumber yang sudah dikumpulkan tersebut.

Apakah bisa menulis karya ilmiah tanpa studi literatur?

Secara teknis bisa, tetapi hasilnya cenderung terlihat dangkal dan kurang berbobot karena tidak memiliki landasan teori atau pembanding dari penelitian sebelumnya.

Seberapa membantu post ini?

Seorang penulis konten edukasi dengan fokus pada topik akademik, penelitian, dan teknologi pendidikan. Memiliki pengalaman lebih dari 7 tahun dalam penulisan artikel seputar, universitas, skripsi, metodologi penelitian, dan pengembangan akademik mahasiswa.