Dalam sebuah penelitian, pemilihan sampel yang tepat menjadi kunci agar data yang diperoleh benar-benar relevan dan akurat. Salah satu teknik yang sering digunakan adalah purposive sampling, yaitu cara memilih sampel berdasarkan tujuan penelitian dengan kriteria tertentu.
Melalui artikel ini, kamu akan memahami pengertian purposive sampling, tujuan, contoh, dan kelebihannya, serta perbedaannya dengan teknik sampling lainnya. Simak baik-baik!
Pengertian Purposive Sampling
Bagi kamu mahasiswa atau peneliti yang akan melakukan penelitian tentu harus tahu apa itu purposive sampling? Menurut Dana P. Turner (2020), purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel yang digunakan ketika peneliti sudah punya target individu dengan karakteristik yang sesuai dengan penelitiannya.
Biasanya sampel penelitian terdiri dari 6-8 mahasiswa yang mengikuti organisasi, baik organisasi kampus maupun luar kampus.
Metode Purposive Sampling
Metode purposive sampling dilakukan secara terencana dengan tujuan memastikan sampel yang dipilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan penelitian. Berikut tahapan yang umumnya dilakukan:
1. Menentukan kriteria sampel
Peneliti terlebih dahulu menetapkan kriteria yang harus dimiliki oleh responden atau objek penelitian. Misalnya, dalam penelitian tentang kebiasaan belajar siswa, kriteria dapat berupa usia, jenjang pendidikan, atau tingkat prestasi akademik.
2. Memilih subjek yang relevan
Setelah kriteria ditentukan, peneliti hanya memilih individu atau kelompok yang memenuhi kriteria tersebut. Dengan cara ini, sampel yang diambil lebih terarah dan tidak sembarangan.
3. Memastikan kesesuaian sampel
Subjek yang telah dipilih kemudian dicek kembali untuk memastikan benar-benar sesuai dengan kriteria yang ditetapkan sejak awal.
4. Melakukan pengumpulan data
Tahap terakhir adalah mengumpulkan data dari sampel terpilih. Data yang diperoleh diharapkan lebih relevan dan mampu menjawab tujuan penelitian secara optimal.
Rumus Purposive Sampling
Agar tidak binggung menentukan hasilnya, berikut ini adalah rumus yang dapat kamu gunakan

Tujuan Purposive Sampling
Sebelum melakukan penelitian, kamu harus tahu tujuanya. Nah berikut ini adalah tujuan purposive sampling yang perlu kamu ketahui:
1. Menyeleksi Target Tertentu
Pertama, pemilihan sampel dilakukan berdasarkan target tertentu. Artinya, peneliti tidak mengambil responden secara acak, tetapi memilih orang-orang yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan penelitian.
2. Peran Peneliti sebagai Penentu Utama
Kedua, peran peneliti sangat menentukan. Dalam purposive sampling, penilaian dan pengamatan peneliti menjadi kunci utama dalam memilih sampel. Peneliti dianggap paling memahami karakteristik apa saja yang penting dan sesuai dengan fokus penelitian.
3. Menghasilkan Data yang Lebih Representatif
Selanjutnya, teknik ini bertujuan menghasilkan data yang lebih representatif. Karena sampel dipilih secara spesifik, data yang terkumpul diharapkan mampu menggambarkan masalah penelitian dengan lebih jelas, mendalam, dan akurat.
4. Berbasis Pemahaman Latar Belakang
Terakhir, purposive sampling sangat bergantung pada pengetahuan latar belakang peneliti. Pemahaman yang baik tentang populasi penelitian membantu peneliti memilih sampel yang penuh dengan informasi, sehingga hasil penelitian benar-benar mendukung tujuan yang ingin dicapai.
Baca Juga: Laporan Penelitian: Struktur, Manfaat, dan Cara Membuat
Jenis Purposive Sampling
Dilansir dari Sugiyono (2019) dan Creswell (2014), purposive sampling memiliki beberapa jenis yang umum digunakan dalam penelitian kualitatif. Berikut penjelasannya:
1. Sampel Homogen
Sampel homogen berfokus pada satu kelompok yang memiliki karakteristik yang sama atau seragam. Kesamaan ini bisa berupa usia, latar belakang budaya, profesi, tingkat pendidikan, dan sebagainya.
Jenis sampel ini digunakan ketika peneliti ingin menggali fenomena penelitian secara mendalam dalam satu kelompok.
2. Sampel Heterogen (Maximum Variation)
Berbeda dengan sampel homogen, sampel heterogen justru menekankan keberagaman karakteristik responden. Tujuannya adalah untuk memperoleh sudut pandang yang luas terhadap suatu fenomena.
Misalnya, ketika peneliti ingin mengetahui pandangan masyarakat dari berbagai latar belakang mengenai pemindahan Ibu Kota Indonesia.
3. Kasus Ekstrem (Menyimpang)
Jenis kasus ekstrem, peneliti akan memilih kasus yang jarang terjadi atau menyimpang dari kondisi umum. Selain itu juga membantu peneliti memahami fenomena secara lebih mendalam dengan melihat sisi yang tidak biasa, sehingga dapat memberikan gambaran baru terhadap pola yang ada.
4. Kasus Tipikal (Khusus)
Sampel kasus tipikal biasanya diambil dari kelompok yang dianggap normal dalam suatu populasi. Jenis ini sangat cocok digunakan ketika peneliti ingin mengetahui gambaran umum dari suatu fenomena penelitian, misalnya dampak kurikulum pendidikan terhadap siswa dengan kemampuan diatas rata-rata.
5. Purposive Sampling Total
Pada purposive sampling total, seluruh anggota populasi dijadikan sampel karena memiliki karakteristik tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Teknik ini biasanya digunakan untuk mengetahui cakupan populasi yang relatif kecil dan spesifik.
6. Kasus Kritis
Jenis sampel ini fokus pada kasus yang dianggap penting. Dengan mengkaji kasus kritis, peneliti berharap dapat memperoleh wawasan lebih lengkap atau temuan baru yang signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
7. Purposive Sampling Expert (Ahli)
Purposive sampling expert dilakukan dengan memilih responden yang memiliki keahlian khusus di bidang tertentu. Teknik ini biasanya digunakan ketika peneliti membutuhkan pendapat atau analisis mendalam dari seorang ahli.
Contoh Purposive Sampling
Agar kamu tidak binggung, berikut ini adalah beberapa contoh purposive sampling yang perlu kamu ketahui:
1. Contoh Purposive Sampling di Bidang Pendidikan
Seorang peneliti ingin mengetahui efektivitas penggunaan Zoom Metting terhadap proses belajar mengajar mahasiswa. Oleh karena itu, peneliti tidak memilih responden secara acak, melainkan hanya memilih mahasiswa yang sudah terbiasa menggunakan Zoom Metting setiap pembelajaran.
Alasan menggunakan purposive sampling:
Tidak semua mahasiswa menggunakan Zoom Metting untuk proses pembalajaran Dengan kriteria tersebut, data yang diperoleh lebih relevan dan sesuai dengan tujuan penelitian.
2. Contoh Purposive Sampling di Bidang Kesehatan
Sebuah penelitian bertujuan untuk menganalisis pola hidup pasien gagal ginjal stadium akhir. Sampel penelitian dipilih secara purposive, yaitu pasien yang telah didiagnosis gagal ginjal stadium akhir selama lebih dari satu tahun dan menjalani kontrol rutin di puskesmas.
Alasan menggunakan purposive sampling:
Pasien yang baru terdiagnosis belum memiliki pengalaman cukup dalam menjalani pola hidup sebagai penderita diabetes, sehingga kurang sesuai dengan fokus penelitian.
Kelebihan dan Kekurangan Purposive Sampling
Berikut ini adalah beberapa kelebihan dan kekurangan purposive sampling yang perlu kamu ketahui. Simak baik-baik!
Kelebihan Purposive Sampling
- Sampel sesuai dengan tujuan penelitian yang akan dilakukan.
- Lebih hemat waktu dan biaya karena tidak menjangkau semua populasi.
- Peluang memperoleh data yang lebih lengkap.
- Cocok untuk penelitian kualitatif atau studi kasus tertentu
Kekurangan Purposive Sampling
- Terlalu subjektif tinggi dalam menentukan sampel.
- Hasil penelitian biasanya cukup sulit digeneralisasikan ke populasi luas
- Memiliki potensi bias dalam pemilihan responden
- Validitas data eksternal yang diperoleh cukup rendah dibandingkan sampling probabilitas
Itulah artikel dari dosenmahasiswa.id tentang purposive sampling penelitian yang sering digunakan oleh mahasiswa dan peneliti untuk melakukan penelitian. Semoga bermanfaat!
Referensi:
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta, 2019.
Creswell, John W. Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. 4th ed., SAGE Publications, 2014.
Turner, Dana P. Purposive Sampling. 2020.
FAQ
Purposive sampling digunakan karena peneliti ingin mendapatkan data dari responden yang paling relevan dengan tujuan penelitian.
Purposive sampling memilih sampel berdasarkan kriteria tertentu, sedangkan random sampling memilih sampel secara acak.