Menyusun pedoman wawancara adalah salah satu tahap penting dalam penelitian yang harus kamu lakukan agar lebih mudah mendapatkan data secara langsung dan valid. Biasanya kegiatan ini dilakukan oleh dosen maupun mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir seperti skripsi, tesis, atau disertasi.
Pedoman ini biasanya dilampirkan dalam laporan penelitian, misalnya pada bagian lampiran skripsi. Kehadirannya sangat membantu jalannya wawancara agar lebih terarah, sistematis, dan sesuai dengan tujuan penelitian.
Pada artikel ini akan dibahas secara lengkap tentang pedoman wawancara penelitian serta contoh dan cara membuat yang benar!
Pengertian Pedoman Wawancara
Bagi kamu yang akan melakukan wawancara, tentu harus memahami apa itu pedoman wawancara? Menurut Turner D, Pedoman wawancara penelitian adalah kerangka pertanyaan terbuka yang membantu peneliti mengeksplorasi pengalaman dan pandangan responden secara mendalam.
Manfaat Pedoman Wawancara Dalam Penelitian
Berikut ini adalah manfaat pedoman wawancara dalam penelitian yang perlu kamu ketahui:
1. Membantu Tetap Fokus pada Tujuan Penelitian
Pedoman wawancara berfungsi sebagai panduan agar peneliti tetap fokus pada tujuan penelitian. Wawancara dilakukan bukan sekadar bertanya, tetapi untuk menggali data yang benar-benar dibutuhkan.
Tanpa pedoman, pertanyaan bisa melebar dan tidak relevan. Dengan adanya pedoman, peneliti dapat mengarahkan pembahasan agar tetap sesuai topik penelitian.
2. Menjamin Konsistensi dalam Wawancara
Dalam penelitian, peneliti sering kali mewawancarai lebih dari satu narasumber. Pedoman wawancara memastikan semua narasumber menerima pertanyaan yang sama. Hal ini penting agar data yang diperoleh dapat dibandingkan secara adil.
Konsistensi pertanyaan juga membantu peneliti menjaga keseragaman informasi yang dikumpulkan.
3. Meningkatkan Kualitas Data Penelitian
Pertanyaan yang disusun dalam pedoman biasanya telah dipikirkan secara matang. Setiap pertanyaan dibuat jelas, tidak ambigu, dan sesuai dengan topik penelitian. Dengan kualitas pertanyaan yang baik, narasumber dapat memberikan jawaban yang tepat sasaran.
Akibatnya, data yang diperoleh menjadi lebih valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
4. Memudahkan Proses Analisis Data
Pedoman wawancara membuat alur pertanyaan menjadi lebih terstruktur. Jawaban narasumber pun cenderung tersusun rapi dan sistematis.
Hal ini sangat membantu peneliti saat melakukan proses koding dan analisis data. Dengan data yang runtut, waktu analisis dapat dilakukan lebih efisien.
5. Membangun Kredibilitas Peneliti dan Penelitian
Wawancara yang dilakukan dengan pedoman menunjukkan sikap profesional peneliti. Narasumber akan melihat bahwa penelitian dilakukan secara serius dan terencana.
Hal ini berdampak pada meningkatnya kepercayaan terhadap peneliti dan hasil penelitiannya.
6. Hemat Waktu dan Sumber Daya
Dengan pedoman wawancara, peneliti sudah mengetahui pertanyaan apa saja yang akan diajukan. Wawancara berjalan lebih lancar tanpa banyak pengulangan kata.
Hal ini membantu menghemat waktu, tenaga, dan biaya penelitian. Proses wawancara juga dapat selesai sesuai dengan jadwal yang telah disepakati.
7. Meningkatkan Kepercayaan Narasumber
Pedoman wawancara membantu menciptakan suasana wawancara yang lebih tertib dan nyaman. Narasumber merasa dihargai karena pertanyaan disampaikan secara jelas dan terarah.
Rasa percaya ini membuat narasumber lebih terbuka dalam memberikan jawaban. Akhirnya, informasi yang diperoleh menjadi lebih lengkap dan mendalam.
8. Meminimalkan Risiko Kesalahan
Pedoman wawancara membantu peneliti menghindari kesalahan dalam mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang tidak relevan atau terlalu melebar dapat diminimalkan.
Selain itu, pedoman juga membantu menjaga fokus narasumber saat menjawab. Dengan begitu, risiko kesalahan dalam pengumpulan data menjadi lebih kecil.
9. Mendukung Dokumentasi Penelitian
Pedoman wawancara tidak hanya berisi daftar pertanyaan, tetapi juga petunjuk teknis pelaksanaan. Misalnya, cara mencatat jawaban atau metode perekaman wawancara.
Dokumentasi yang baik sangat penting untuk keperluan analisis dan pelaporan penelitian. Dengan pedoman yang jelas, seluruh proses wawancara dapat didokumentasikan secara sistematis
Cara Membuat Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara berfungsi sebagai panduan agar proses wawancara dalam penelitian berjalan terarah dan sistematis. Berikut ini adalah cara membuat pedoman wawancara yang benar:
1. Menentukan Tujuan Wawancara
Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah dengan menetapkan tujuan wawancara. Peneliti perlu mengetahui informasi apa yang ingin diperoleh dari narasumber.
Misalnya, jika penelitian membahas perawatan pasien diabetes di rumah, maka pertanyaan harus difokuskan pada pengalaman dan praktik perawatan tersebut.
2. Melakukan Perbandingan Penelitian
Langkah kedua adalah mempelajari penelitian terdahulu yang memiliki topik sama atau relevan. Dari penelitian sebelumnya, peneliti dapat melihat contoh pedoman wawancara yang pernah digunakan.
Perbandingan ini membantu peneliti menyusun pertanyaan yang lebih tepat dan menghindari kesalahan. Selain itu, peneliti juga mendapatkan gambaran mengenai aspek apa saja yang penting untuk digali.
3. Identifikasi Narasumber
Pada tahap ini, peneliti menentukan siapa saja yang akan dijadikan narasumber. Pemilihan narasumber harus disesuaikan dengan topik dan metode penelitian yang digunakan.
Peneliti juga perlu bersikap fleksibel karena ada kemungkinan narasumber berhalangan atau tidak bersedia. Oleh karena itu, menyiapkan alternatif narasumber menjadi hal yang penting.
4. Pengembangan Pertanyaan
Setelah tujuan dan narasumber sudah ditentukan, peneliti mulai menyusun daftar pertanyaan wawancara. Pertanyaan harus dibuat jelas, mudah dipahami, dan relevan dengan tujuan penelitian.
Susunan pertanyaan ini nantinya menjadi inti dari pedoman wawancara. Pertanyaan yang baik akan membantu peneliti memperoleh data yang mendalam dan bermakna.
5. Menentukan Struktur Wawancara
Langkah terakhir adalah mengatur urutan pertanyaan agar wawancara berjalan lancar. Struktur yang baik membuat narasumber merasa nyaman dan lebih terbuka dalam memberikan jawaban.
Urutan pertanyaan yang logis juga membantu peneliti mendapatkan data yang runtut, lengkap, dan valid.
Contoh Pedoman Wawancara
Dalam penelitian kualitatif, wawancara menjadi salah satu teknik utama untuk menggali data secara mendalam. Agar wawancara berjalan terarah dan sesuai dengan tujuan penelitian, peneliti perlu menyusun pedoman wawancara.
Pedoman ini berisi daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis serta petunjuk pelaksanaan wawancara. Format pedoman wawancara seperti ini banyak digunakan dalam skripsi, tesis, dan jurnal ilmiah karena dinilai lebih terstruktur dan kredibel.
Sebagai contoh, pedoman wawancara berikut digunakan dalam penelitian berjudul “Persepsi Mahasiswa terhadap Pelaksanaan Pembelajaran Daring di Perguruan Tinggi”. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur, artinya peneliti memiliki pertanyaan utama, namun tetap dapat mengembangkan pertanyaan lanjutan sesuai jawaban narasumber.
Sebelum wawancara dimulai, peneliti menjelaskan tujuan penelitian, menjamin kerahasiaan data, serta meminta persetujuan narasumber untuk melakukan pencatatan atau perekaman. Langkah ini penting untuk menjaga etika penelitian dan membangun kepercayaan narasumber.
| No | Aspek yang Digali | Pertanyaan Wawancara |
|---|---|---|
| 1 | Pemahaman Umum | Bagaimana pendapat Anda tentang pelaksanaan pembelajaran daring di perguruan tinggi? |
| 2 | Pengalaman Pribadi | Bagaimana pengalaman Anda selama mengikuti pembelajaran daring? |
| 3 | Kendala | Kendala apa saja yang paling sering Anda hadapi selama pembelajaran daring berlangsung? |
| 4 | Dampak Pembelajaran | Bagaimana pengaruh pembelajaran daring terhadap pemahaman materi dan motivasi belajar Anda? |
| 5 | Efektivitas | Menurut Anda, apakah pembelajaran daring sudah berjalan efektif? Jelaskan alasannya. |
| 6 | Saran dan Harapan | Apa saran Anda agar pembelajaran daring ke depan dapat berjalan lebih baik? |
Itulah artikel dari dosenmahasiswa.id tentang pedoman wawancara penelitian. Semoga dapat membantumu dalam memperoleh data yang benar. Semoga bermanfaat!
Referensi:
Pujiati. Pedoman Wawancara dalam Penelitian & Cara Membuatnya. Penerbit Deepublish, 19 Jan. 2025. Diakses pada 20 Desember 2025
Soenanto, Hardi. Memahami Psikotes: Dilengkapi dengan Surat Lamaran Kerja dan Pedoman Wawancara. Pustaka Grafika, Universitas Indonesia 2001. Diakses pada 20 Desember 2025
Turner, D. W. (2010). Qualitative interview design. The Qualitative Report.
FAQ
Menyusun pedoman wawancara itu penting agar proses wawancara berjalan terarah dan tidak melebar ke mana-mana.
Pedoman wawancara perlu dibuat oleh siapa saja yang ingin menggali informasi secara terstruktur, seperti peneliti, mahasiswa, jurnalis, atau praktisi